Allahumma sholli alaa sayyidina muhammad wa aalihi washohbihi wassalim

Marhaba Ya Syahro Romadhon Marhaban Ya syahro Syiam.

Selasa, 19 April 2011

Adab Dalam Shalat

Adab Dalam Shalat

Pokok Bahasan : TASAWUF

Judul : Adab Dalam Shalat

Nara Sumber : Al Ustdz. Al Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf

Sumber : http://alkifahi-altsaqafy.blogspot.com/

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Baguskan berdiri kita sewaktu shalat. Baguskan kita punya bacaan dalam shalat secara “tartil”. Jalankan adab-adab dalam shalat, sempurnakan ruku, sujud dan rukun-rukun yang lainnya, serta kerjakan sunah-sunah dalam shalat.

Menjaga diri dari pada yang menyebabkan berkurangnya nilai shalat di hadapan Allah SWT. Bila kamu mengerjakan shalat dengan sempurna dan memelihara adab-adabnya, maka di akhirat kelak shalat kita akan menjelma menjadi makhluk yang putih, dan shalat kita akan berkata: “Semoga Allah menjaga dan memelihara kamu sebagaimana kamu memelihara aku.”

Apabila kita tidak dapat mengerjakan shalat dengan sempurna dan tidak dapat memelihara adab-adabnya, maka di akhirat kelak shalat kita akan menjelma menjadi makhluk yang hitam dan gelap dan shalat kita akan berkata: “Semoga Allah mengabaikan kamu sebagaimana kamu mengabaikan aku.”

Tidak ada keuntungan yang akan diperoleh seseorang apabila ia tidak dapat menghadirkan hatinya didalam shalat (tanpa memikirkan urusan-urusan lainnya).

Seorang ulama Hassan Al-Bassry berkata: Semua shalat (wajib ataupun sunnah) yang tidak “hadir/khusyu”, maka lebih dekat dengan siksa Allah dibandingkan dengan pahala yang akan diperoleh.”

Setan sangat giat/semangat dalam membimbangkan hati seorang mu’min dari shalatnya, sampai-sampai setan ini dapat membuka segala apa-apa yang menjadi kebutuhan orang yang shalat. Setan dapat mengingatkan segala hal yang tadinya kita lupakan diluar shalat, di waktu shalat semua itu dapat teringat sehingga shalat kita tidak “khusyu”.

Apabila seseorang sudah berusaha keras untuk khusyu dalam shalatnya, akan tetapi tetap tidak dapat khusyu, maka sebagian ulama mengatakan penyebabnya dapat terjadi karena kurang sempurnanya dalam wudhu. Karena sempurnanya wudhu merupakan pangkal dari sah atau tidaknya shalat kita.

Untuk mengetahui apakah para sohabatnya dapat khusyu dalam shalat, Rasullah pernah mengadakan sayembara di hadapan para sohabat. “Barang siapa dapat melaksanakan shalat dengan khusyu dari sejak niat sampai salam, maka aku akan berikan “ridha-ku” yang hijau ini.” Semua sohabat tidak ada yang berani mengangkat tangan, terkecuali Syaidina Ali bin Abi Thalib. Setelah Syadina Ali menyelesaikan shalatnya, Rasullah bertanya: “Bagaimana wahai Ali, Apakah kamu dapat shalat dengan khusyu dari awal sampai akhir?” Syadina Ali menjawab: “Wahai Rasullah, dari mulai niat sampai menjelang salam aku dapat khusyu, akan tetapi saat akan mengucapkan salam aku teringat akan ridha yang akan kau berikan.”

Jika tidak ada hasil dari yang diusahakan (ke-khusyu-an), maka bisa jadi kita keluar dari shalat dengan menanggung dosa kepada Allah.

Cara membentengi diri kita dari godaan setan yang terkutuk, bacalah surrah: An-Naas sebelum shalat.

Dituntut bagi kita untuk tidak melazimkan/membiasakan membaca surrah tertentu setelah membaca surrah Al-Fatehah, kecuali bila syareat menganjurkannya. Misalnya ada hadist Nabi yang menganjurkan membaca surrah tertentu pada waktu shalat.

Jangan sekali-kali kamu melazimkan/membiasakan membaca surrah-surrah pendek jika kamu menjadi imam, seperti Qulya, Qulhu, Al-Falaq, An-Naas ataupun Ina’atoina.

Dalam suatu riwayat seorang sohabat yang bernama Mu’az bin Jabbar memimpin shalat berjama’ah pada suatu kaum, dalam shalat berjama’ah tersebut Mu’az membaca surrah setelah Al-Fatehah terlalu panjang sehingga ada sebagian jama’ah merasa gelisah. Kemudian jama’ah tersebut mengadukan hal tersebut kepada Bagainda Nabi. Rasullah menegur sohabat Mu’az dengan berkata: “Wahai Mu’az, apakah engkau ingin membuat orang ‘kapok’/tidak ingin lagi melaksanakan shalat berjama’ah?”

Jadi kesimpulannya, saat kita menjadi imam janganlah membaca surrah-surrah yang pendek dan jangan pula membaca surrah-surrah yang terlampau panjang, bacalah surrah-surrah yang sedang-sedang saja seperti: Wassamsyi, Wadhuha, Syabihis dll.

KEUTAMAAN SHALAT DHUHA


shalat Dhuha ialah shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu Matahari

sedang naik, yaitu kira-kira setinggi lebih kurang 7 (tujuh) hasta atau

sekitar setinggi satu tombak yaitu antara pukul 07.00 pagi sampai masuk

waktu Dzuhur, ( sekitar pukul 11.00 siang ).
Adapun dalil Shalat Sunnat Dhuha adalah sabda Rosulullah SAW

dalam beberapa Hadist dari Sahabat Abu Huraira ra antara lain sebagai

berikut :
• Bersabda Rosulullah SAW :
“ Siapa saja yang dapat mengerjakan Shalat Dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan. “( HR Tirmidzi )
• Nabi Muhammad SAW bersabda :
“ Sesungguhnya di Surga itu ada pintu yang disebut pintu Dhuha, makatatkala di hari Kiamat nanti ada panggilan khatib : “ Siapakah orang yangsuka membiasakan shalat Dhuha ? Inilah pintu kamu sekalian, masuklah kamus ekalian dengan penuh Rahmat Allah SWT. “ ( HR Thabrani )
• Abu Hurairah ra pernah berkata :
“ Di perintahkan kepadaku oleh kekasihku Nabi SAW untuk berpuasa 3 (tiga) hari pada tiap-tiap bulan, mengerjakan 2 ( dua ) rakaat Shalat SunnatDhuha, dan supaya saya berwitir sebelum tidur.” ( HR Bukhari dan Muslim)
• Dari Mu’im bin Hammar, bahwasanya Nabi SAW bersabda :
“ Tuhanmu yang Maha Tinggi telah berseru : “ Hai anak Adam ! Shalatlahempat rakaat bagi Aku dari awal siang. Maka Aku akan cukupkan engkau diakhir siang itu”. ( HR Ahmad dan Abu Daud )
• Dari Aisyah ra, ia berkata : “ Adalah Rosulullah SAW biasa Shalat
Dhuha 4 ( empat ) rakaat dan ia menambah ( sebanyak mungkin ) menurut apa yang dikehendaki Allah SWT.” (HR Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah )
• Dari Ummu Hani diceritakan, sesungguhnya ia pernah datang kepadaNabi SAW pada tahun di taklukkannya kota Mekkah. Waktu itu, Nabi SAW berada di bagian atas kota Mekkah. Lalu Rosulullah SAW berdiri menuju ketempat mandinya. Fatimah lantas mendinginkannya. Kemudian ia mengambilpakaiannya dan berselimut dengan pakaian itu. Selanjutnya, ia Shalat 8 (delapan ) rakaat, yaitu Shalat Dhuha. ( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )Adapun keutamaan ( fadhilah ) Shalat Sunnat Dhuha perhatikan

Hadist-Hadist Rosulullah SAW seperti berikut :
• Nabi Muhammad SAW bersabda :
“ Pada tiap pagi dianjurkan atas diri seseorang dari kamu untuk
bersedekah. Maka tiap-tiap tasbih itu sedekah dan tiap-tiap tahmid ( puji ) itu sedekah. Pada tiap-tiap tahlil pun sedekah dan tiap-tiap menyuruhkepada kebaikan itu juga sedekah. Begitu pula mencegah kemungkaran itusedekah. Namun diantara semua itu cukuplah sebagai penggantinya ialah mengerjakan dua rakaat Dhuha. “ ( HR Muslim dan Abu Dzar )
• Dari Abdullah bin Buraidah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa ia
pernah mendengar Rosulullah SAW bersabda :
“ Dalam diri manusia itu ada 360 ( Tiga Ratus Enam Puluh ) ruas yang
setiap darinya diharuskan bersedekah. Para Sahabat bertanya : Kalau
begitu, siapa yang mampu berbuat demikian ya Rosulullah ?
Rosulullah SAW
menjawab : “ Mengeluarkan dahak di Masjid lalu ditanamnya atau
menyingkirkan sesuatu gangguan dari jalan, itu juga sedekah. Tetapi kalau engkau tidak bisa, kerjakanlah dua rakaat Dhuha. Karena itu mencukupi dari semua itu “ ( HR Ahmad dan Abu Daud )
Saudaraku, sesama Muslim.Begitu banyak fadhilah, keutamaan Shalat Sunnat Dhuha, seyogyanya sebagai muslim yang baik tergerak hati kita untuk mengerjakan ( mengamalkan)Shalat Sunnat Dhuha. Betapa tidak, kapan lagi kita akan mendapatkan kesempatan untuk meraih, menggapai pahala untuk bekal akhirat kita ?

ayo, saudaraku, jangan ragu dan bimbang lagi, mari dengan ikhlas kita

mengerjakan Shalat Sunnat Dhuha.

• Cara mengerjakan Shalat Dhuha.
1. Niat Shalat Dhuha :

2. Surat yang dibaca setelah Al-Fatihah :
a. Pada rakaat pertama surat Asy-Syams.
b. Pada rakaat kedua surat Adh-Dhuha.
3. Selesai shalat, membaca do’a sebagai berikut :

“ Ya Allah, ya Tuhanku, bahwa kami waktu Dhuha itu milik Engkau dan

kebajikan ( kemewahan ) itu milik Engkau, dan keindahan itu milik Engkau

dan kekuatan itu milik Engkau dan kekuasaan itu milik Engkau dan

pemeliharaan itu milik Engkau. Ya Allah, Tuhanku, jika keadaan rezekiku

di langit, maka turunkanlah dan jika adanya didalam bumi maka

keluarkanlah dan jika adanya didalam air atau dilaut maka keluarkanlah ia

dan jika ia lambat, percepatlah dan jika ia sulit, gampangkanlah dan jika

ia haram, sucikanlah dan jika jauh, dekatkanlah ia dan jika sedikit,

perbanyaklah ia padaku dan jika banyak, berkahilah ia bagiku dan

sampaikanlah dimana saja aku berada. Janganlah Engkau pindahkan aku ke

tempat itu, dan jadikanlah tanganku diatasnya, untuk menjadi pemberi dan

janganlah tanganku dijadikan dibawah untuk jadi tukang minta.

Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu dengan hak ( bekal )

Dhuha Engkau, kebagusan Engkau, keindahan Engkau, kekuatan Engkau,

kekuasaan Engkau dan pemeliharaan Engkau. Tiada daya dan kekuatan,

kecuali dengan pertolongan Engkau. Berilah aku apa yang Engkau engkau

kepada hamba-hamba Engkau yang soleh. Dan sampaikanlah shalawat kepada

Nabi Muhammad SAW dan keluarganya beserta para Sahabatnya. Semoga mereka

mendapat keselamatan dan segala Puji bagi Allah, Tuhan Seru Sekalian

Alam.”
Saudaraku, kerjakanlah Shalat Sunnat Dhuha setiap pagi, paling

sedikit 2 ( dua ) rakaat atau 4 ( empat ) rakaat atau 6 ( Enam ) rakaat

dan paling banyak 8 ( delapan ) rakaat.

Insya Allah bermanfaat..

Minggu, 17 April 2011

Anjuran Bersholawat Kepada Nabi Setelah Adzan

Pokok Bahasan : TASAWUF

Judul : Anjuran Bersholawat Kepada Nabi Setelah Adzan

Nara Sumber : Al Ustdz. Al Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf

Sumber : http://alkifahi-altsaqafy.blogspot.com/

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Disunnahkan bagi mu’azin dan mukimin (orang yang sudah berada di dalam masjid) agar setelah mendengarkan suara adzan, bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. dan memohon kepada Allah agar mengangkat derajat Nabi Muhammad SAW. sebagaimana doa yang biasa kita baca setelah adzan.

Dianjurkan memperbanyak membaca doa antara waktu Adzan dan Qomat. Karena ada Hadist Nabi yang menyatakan bahwa doa antara Adzan dan Qomat tidak di tolak oleh Allah. Diantara doa yang warid pada waktu tersebut adalah:

ا للهم انى أسأ لك العا فية فى الد نيا والاخرة

Artinya:

“Ya Allah aku mohon kepadaMu keselamatan di dunia dan akhirat.”

Sesungguhnya telah datang anjuran dari Hadist Nabi tentang anjuran membaca doa ini tidak hanya diantara Adzan dan Qomat tetapi di setiap doa kita.

Hendaknya kamu melazimkan bersegera untuk melaksanakan shalat diawal waktu. Bagi yang tidak dapat melaksanakan shalat di awal waktu, maka harus ada “adzam” (keinginan kuat untuk melaksanakan shalat pada jam ….), karena kita tidak tahu kapan ajal/umur kita akan sampai.

Yang dimaksud shalat di awal waktu adalah: Sebelum masuk waktu shalat, kita sudah wudhu dan sudah berada di dalam masjid. Apabila tidak dapat mengerjakan seperti itu, setidaknya kita segera bersiap menuju ke masjid pada saat mendengar suara adzan.

Shalat di awal waktu mendapatkan derajat: Ridho Allah رضوان الله

Shalat di akhir waktu mendapatkan derajat: Ampunan Allah

Derajatnya lebih rendah bila dibandingkan dengan derajat yang pertama.

Sebelum dan sesudah shalat wajib kerjakan shalat sunnah Qobliyah dan Ba’diyah. Apabila ada udzur tidak dapat melaksanakan shalat sunnah Qobliyah dan Ba’diyah pada waktu tersebut, maka segera kita qodho bila ada kesempatan di lain waktu. Jangan meremehkan shalat sunnah Qobliyah dan Ba’diyah.

Senin, 29 November 2010

Ahlaq Dalam Pergaulan

Asssalamu’alaikum Wr. Wb.

Jangan kamu banyak bicara. Apabila hendak bicara, maka ucapkanlah kata-kata yang baik-baik saja. Bila kamu bicara, maka susunlah kata-katamu sehingga enak untuk didengar.

Simak atau dengarkan lawan bicara kita dengan penuh perhatian, sehingga akan menyenangkannya. Tunjukkan perhatian kita dengan menatapnya, jangan menoleh kearah yang lain yang menunjukkan kita kurang memperhatikannya.

Jangan putuskan pembicaraan seseorang, kecuali jika pembicaraan itu yang membuat Allah murka seperti mengumpat atau meng-ghibah seseorang. Cara kita menegurnya tentunya dengan cara yang sopan dan santun. Segala kata yang haram diucapkan, maka haram pula untuk didengarkan.

Allah mewahyukan kepada Nabi Musa, apabila seseorang sudah tobat dari dosa ghibah, maka ia akan masuk surga paling terakhir. Dalam sebuah hadist Rasullah pernah berkata: “Ghibah lebih dahsyat dari pada zina.”

Siapa yang memasukkan kedalam perutnya makanan-makanan yang berlebihan, maka ia akan mengelurkan kata-kata yang berlebihan pula dari mulutnya.

Jangan kamu mengeluarkan kata-kata yang tidak menyenangkan hati seseorang. Terkadang bala dapat datang dari ucapan kita sendiri. Hati-hati jangan mencampuri pembicaraan seseorang.

Apabila kita telah mengetahui suatu hal yang sedang dibicarakan lawan bicara kita, maka hendaknya jangan menampakkan atau mengucapkan bahwa kita telah mengetahui hal tersebut, karena hal itu dapat mengecewakan lawan bicara kita.

Apabila seseorang berbicara atau bercerita tentang suatu hal yang dinukil (diambil) dari suatu kitab, akan tetapi cerita atau pembicaraannya tersebut tidak sesuai dengan yang tertulis dalam kitab, maka jangan menyalahkannya, apabila cerita atau pembicaraannya tersebut tidak menyangkut suatu hukum dan agama. Apabila pembicaraannya menyangkut suatu hukum atau agama, maka hendaklah menegurnya dengan adab yang baik. “Menyakiti hati seorang mu’min, maka dosanya lebih besar dari pada menghancurkan 60 Ka’bah.” (Hadist)

Jangan kamu masuk/bicara pada suatu urusan yang kita tidak ada hubungannya dengan urusan atau kepentingan tersebut.

Jangan kamu banyak mengucapkan sumpah dengan nama Allah (Demi Allah), meskipun kamu berada pada pihak yang benar. Terkecuali ada hajat yang menyangkut harta atau jiwa, maka kita diperbolehkan bersumpah atas nama Allah.

Dalam suatu riwayat sewaktu Syaidina Ali menjabat sebagai Khalifah, ia pernah kehilangan pedangnya. Pada suatu ketika ia melihat pedangnya ada di tangan seorang Yahudi. Sebagai kepala negara yang bijak ia tidak langsung merebut pedang tersebut, akan tetapi melaporkannya pada seorang hakim. Hakim lalu memanggil orang Yahudi tersebut. Hakim bertanya kepada Yahudi: “Apakah pedang yang ada padanya adalah milik Syaidina Ali?” Orang Yahudi tersebut bersumpah bahwa pedang yang berada ditangannya bukan milik Syaidina Ali, melainkan miliknya. Hakim bertanya kepada Syaidina Ali: “Apakah engakau mempunyai saksi dan bukti bahwa pedang tersebut adalah milikmu?” Syaidina Ali menjawab: “ Tidak, wahai hakim.” Kemudian hakim memutuskan, jika demikian maka Syaidina Ali tidak berhak atas pedang tersebut. Mendengar keputusan hakim yang tidak memihak kepada kepala negara, orang Yahudi tersebut merasa kagum dan menyatakan masuk Islam, serta mengembalikan pedang yang ada padanya kepada Syaidina Ali dan berterus terang bahwa ia telah berbohong.

Jangan kamu berdusta (berbohong), karena dusta berlawanan dengan Iman. Bila seorang hamba 1 kali berdusta dengan jalan bersumpah, maka malaikat akan menjauh sejarak 1 mil karena bau dari dusta tersebut. (Hadist)

Setiap dusta akan dicatat sebagai perbuatan dosa, kecuali dalam 3 hal, yaitu:
1. Seorang suami yang berbohong kepada istrinya dengan tujuan untuk menyenangkan hati istrinya.
2. Dustanya seorang lelaki di dalam medan perang.
3. Dustanya seseorang dengan tujuan untuk mendamaikan dua orang yang sedang berselisih.

Senin, 02 Agustus 2010

Rattib Al-Attas

Rattib Al-Attas

اَلْفَاتِحَةُ اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ, اَعُوذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ...) الخرسُوْرَةُ الْفَاتِحَة

اَعُوْذُبِا للهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَا نِ الرَّجِيْمِ (ثَلاَثًا)

( لَوْاَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَاَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وِتِلْكَ اْلاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ. هُوَاللهُ الَّذِيْ لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَعَالِمُ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَالرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ هُوَاللهُ الَّذِيْ لآ اِلَهَ اِلاَّ هُوَاْلمَلِكُ اْلقُدُّوْسُ السَّلاَمُ اْلمُؤْمِنُ اْلمُهَيْمِنُ اْلعَزِيْزُاْمجَبَارُ اْلمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّايُشْرِ كُوْنَ هُوَاللهُ اْمخَالِقُ اْلبَارِئُ اْلمُصَوِّرُلَهُ اْلاَسْمَاءُ اْمحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَافِى السَّمَوَاتِ وِاْلاَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُاْمحَكِيْمِ ) اَعُوْذُبِاللهِ السَّمِيْحِ اْلعَلِيْمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (ثلاثا) اَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّا مَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ (ثلاثا) بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَيَضُرُّمَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى اْلاَرْضِ وَلاَفِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ (ثلاثا) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ (عَشْرًا) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ (ثَلاَثًا) بِسْمِ اللهِ تَحَصَّنَّا بِاللهِ.بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْنَا بِاللهِ (ثَلاَثًا) بِسْمِ اللهِ آمَنَّابِاللهِ. وَمَنْ يُؤْ مِنْ بِاللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِ (ثَلاَثًا) سُبْحَانَ اللهِ عَزَّاللهِ. سُبْحَانَ اللهِ جَلَّ اللهِ (ثَلاَثًا) سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ.سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ (ثَلاَثًا) سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُلِلَّهِ وَلآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ (اَرْبَعًا) يَالَطِيْفًا بِخَلْقِهِ يَاعَلِيْمًا بِخَلْقِهِ يَاخَبِيْرًا بِخَلْقِهِ. اُلْطُفْ بِنَايَالَطِيْفُ,يَاعَلِيْمُ يَاخَبِيْرً (ثلاثا) يَا لَطِيْفًا لَمْ يَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَافِيْمَانَزَلْ اِنَّكَ لَطِيْفٌ لَمْ تَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَاوَ الْمُسْلِمِيْنَ (ثَلاَثًا) لآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ (اَرْبَعِيْنَ مَرَّةً) مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ. حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ (سبعا) اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ (عَشْرًا) اَسْتَغْفِرَاللهَ (اا مَرَّةً). تَائِبُوْنَ اِلَى اللهِ (ثَلاَثًا) يَااَللهُ بِهَا.يَااَللهُ بِهَا يَااَللهُ بِحُسْنِ اْلخَاتِمَةِ (ثَلاَثً) غُفْرَا نَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ اْلمَصِيْرُ لاَيُكَلِفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسُعَهَا لَهَا مَا اكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكَتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَا خِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْاَخْطَأْ نَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَا قَةَلَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَ نَا فَانْصُرْنَا عَلَى اْلقَوْمِ اْلكَا فِرِيْنَ.

Kemudian membaca :

اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَاوَ حَبِيْبِنَاوَ شَفِيْعِنَ رَسُوْلِ اللهِ , مُحَمَّدِ بِنْ عَبْدِاللهِ , وَاَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ , اَنَّ اللهَ يُعْلىِ دَرَجَاتِهِمْ فِى اْلْجَنَّةِ وَ يَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِ هِمْ وَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْمِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآ خِرَةِ وَيَجْعَلُنَا مِنْ حِزْ بِهِمْ وَيَرْزُ قُنَا مَحَبَّتَهُمْ وَيَتَوَفَّانَا عَلَى مِلَّتِهِمْ وَيَحْشُرُنَافِى زُمْرَ تِهِمْ . فِى خَيْرٍ وَ لُطْفٍ وَعَافِيَةٍ , بِسِرِ الْفَا تِحَةْ اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا الْمُهَا جِرْ اِلَى اللهِ اَحْمَدْ بِنْ عِيْسَى وَاِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَااْلاُ سْتَاذِ اْلاَعْظَمِ اَلْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ , مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيّ بَاعَلَوِيْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ , وَذَوِىْ الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ اَنَّ اللهَ يَغْفُرُ لَهُمْ وَيَرْ حَمُهُمْ وَيُعْلِيْ دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ , وَيَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِهِمْ وَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّنْيَاوَاْلاَخِرَةِ . اَلْفَا تِحَةُ اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَبَرَكَاتِنَا صَاحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ اْلاَنْفَاسِ اَلْحَبِيْبِ عُمَرْ بِنْ عَبْدِالرَّحْمَنِ الْعَطَّاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ الشَّيْخِ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللهِ بَارَاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب عَبْدُالرَّحْمَنِ بِنْ عَقِيْل اَلْعَطَّاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب حُسَيْن بِنْ عُمَرْ اَلْعَطَّاسْ وَاِخْوَانِهِ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ عَقِيْل وَعَبْدِ اللهِ وَصَا لِحْ بِنْ عَبْدُالرَّحْمَنِ اَلْعَطَّاسْ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب عَلِيِّ بْنِ حَسَنْ اَلْعَطَّاسْ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب اَحْمَدْ بِنْ حَسَنْ اَلْعَطَّاسْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَذَوِى الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ اَنَّاللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْ حَمُهُمْ وَيُعْلِى دَرَجَا تِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِهِمْ وَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ وَنَفَحَا تِهِمْ فِى الدِّ يِنِ وَالدُّ نْيَاوَاْلآخِرَةِ )اَلْفَا تِحَةْ(
اَلْفَاتِحَةُ اِلَى اَرْوَحِ اْلاَوْالِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّا لِحِيْنَ . وَاْلاَ ئِمَّةِ الرَّاشِدِ يْنَ وَاِلَى اَرْوَاحِ وَالِدِيْنَا وَمَشَا يِخِنَا وَذَوِى الْحُقُوْقِ عَلَيْنَا وَعَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ , ثُمَّ اِلَى اَرْوَاحِ اَمْوَاتِ اَهْلِ هَذِهِ الْبَلْدَةِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَنَّ اللهَ يَغْفِرُلَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيُعْلِى دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَيُعِيْدُ عَلَيْنَا مِنْ اَسْرَ ارِهِمْ وَانْوَ ارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ وَبَرَكَاتِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّ نْيَا وَاْلآ خِرَةِ . اَلْفَاتِحَةْ.
اَلْفَاتِحَةُ بِالْقَبُوْلِ وَتَمَامِ كُلِّ سُوْلٍ وَمَأْمُوْلٍ وَصَلاَحِ الشَّأْنِ ظَا هِرًا وَبَا طِنًافِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ دَافِعَةً لِكُلِّ شَرٍّجَالِبَةً لِكُلِّ خَيْرٍ , لَنَا وَلِوَ الِدِيْنَا وَاَوْلاَدِنَاوَاَحْبَا بِنَا وَمَشَا ئِخِنَا فِى الدِّ يْنِ مَعَ اللُّطْفِ وَالْعَا فِيَةِ وَعَلَى نِيَّةِ اَنَّ اللهَ يُنَوِّرُ قُلُوْ بَنَا وَقَوَ الِبَنَا مَعَ الْهُدَى وَالتَّقَى وَالْعَفَافِ وَالْغِنَى . وَالْمَوْتِ عَلَى دِيْنِ اْلاِسَلاَمِ وَاْلاِ يْمَانِ بِلاَ مِحْنَةٍ وَلاَ اِمْتِحَانٍ , بِحَقِّ سَيِّدِ نَاوَلَدِ عَدْ نَانِ , وَعَلَى كُلِّ نِيَّةٍ صَالِحَةٍ .وَاِلَى حَضْرَةِ النَِّبيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ (اَلْفَاتِحَةْ)

Kemudian membaca :

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِىءُ مَزِيْدَهُ, يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَا نِكْ, سُبْحَا نَكَ لاَ نُحْصِيْ ثَنَا ءً عَلَيْكَ اَنْتَ كَمَا اَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ, فَلَكَ الْحَمْدُ حَتىَّ تَرْضَى, وَلَكَ الْحَمْدُ اِذَارَضِيْتَ, وَلَكَ الْحَمْدُ بَعْدَ الرِّضَى. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلاَوَّلِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنّا مُحَمَّدٍ فِى اْلآ خِرِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ, وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى الْمَلَإِ اْلاَ عْلَى اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَتىَّ تَرِثَ اْلاَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَاَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِيْنَ. اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْ دِعُكَ اَدْيَا نَنَا وَاَنْفُسَنَا وَاَمْوَ الَنَا وَاَهْلَنَا وَكُلَّ ثَيْءٍ اَعْطَيْتَنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَاِيَّا هُمْ فِى كَنَفِكَ وَاَمَانِكَ وَعِيَاذِكَ, مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِىْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَذِيْ حَسَدٍ وَمِنْ شَرِّ كَلِّ ذِيْ شَرٍّ, اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شّيْىءٍ قَدِيْرُ. اَللَّهُمَّ جَمِّلْنَا بِالْعَا فِيَةِ وَالسَّلاَ مَةِ, وَحَقِقْنَا بِااتَقْوَى وَاْلاِسْتِقَامَةِ وَاِعِذْنَا مِنْ مُوْ جِبَا تِ النَّدَا مَةِفِى اْلحَالِ وَاْلمَالِ, اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ. وَصَلِّ اللَّهُمَّ بِجَلاَلِكَ وَجَمَالِكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ, وَارْزُقْنَا كَمَالَ اْلمُتَا بَعَةِ لَهُ ظَا هِرًا وَبَا طِنًا يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, بِفَضْلِ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمُ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ

RAMADHAN

Asssalamu’alaikum Wr. Wb.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqarah : 183)

Ramadhan bulan harapan umat Nabi Muhammad SAW, Nabi Muhamamad SAW berkeluh kesah kepada Allah SWT dikarenakan pandangan Allah SWT sangat banyak dibulan ini, setiap amal baik dilipat gandakan di bulan ini, maka setiap orang yang merasa berdosa, disinilah tempat dia memohon ampun dan meminta ridho-Nya, karena Nabi SAW bersabda :
“Barang siapa yang menyambut bulan Ramadhan dengan hati yang gembira, maka akan Allah ampunkan dosa yang terdahulu”.

Ulama-ulama terdahulu bila datang bulan Ramadhan mereka selalu membaca :
“Ashadualaa ilaha ilallah Astagfirullah Nasalukal jannata wannauzubika minannar…. 3X Allahuma inaka afuwun tuhibbul afwa fafuanna…. 3X”

Dan inilah amalan-amalan orang sholeh setiap harinya, Al-Qur`an dan sholat sunnah tidak pernah terlepaskan, apalagi sholat Tarawih yang dikerjakan selalu berjama`ah.

Di bulan ini pula ada malam seribu bulan yang dinamai “Lailatul Qadar”. Mereka para ulama terdahulu menandai malam itu dengan malam ganjil, kerena Nabi SAW bersabda :
“Allah menyukai yang ganjil-ganjil”

Biasanya mereka para ulama menghabiskan malam itu dengan menghatamkan Al-Qur`an dan bersholawat kepada Rasulullah SAW.

Di bulan ini pula pertama kali Allah SWT menurunkan Al-Qur`an pada tanggal 17 Ramadhan, bila diceritakan tentang fadilah Ramadhan tidak akan pernah menghabiskan pertanyaan dan jawaban karena begitu banyak hikmah-hikmah yang terkandung.

Allah SWT berfirman :

“Seandainya pohon di dunia ini dijadikan penanya dan air laut dijadikan tintanya maka tidak akan habis Ilmu Allah untuk dipelajari”

DOA NABI HIDIR AS (Doa Menolak Bala)

DOA NABI HIDIR AS (Doa Menolak Bala)

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

دُ عَاء الفرَج لِسَيِِّدِنَا الخِضِرْ عَلَيْة السَّلاَم

اَللَّهُمَّ كَمَا لَطَفْتَ فِى عَظَمَتِكَ دُونَ اللّطَفَاءِ وَعَلوْتَ بِعَظَمَتِكَ عَلَى الْعُظَمَاءِ ، وَعَلِمْتَ مَاتَحْتَ أَرِضِكَ كَعِلْمِكَ بِمَا فَوْقَ عَرْشِكَ ، وَكَا نَتِ وَسَاوسُ الصدورِ كَاْلعَلاَ نِيَّة عِنْدَكَ ، وَعَلاَ نَّيِةُ اْلقَوْلِ كَالسَّر فِى عِلْمِكَ ، وَانْقَادَ كُلُّ شَىْء لِعَظَمَتِكَ ، وَخَضَعَ كُلُّ ذِى سُلْطَانٍ لسُلْطَانِكَ ، وَصَارَ أَمْرُ الدُّنْيَا والاَخِرَةِ كُلُّه بِيَدِكَ . اِجْعَلْ لِى مِنْ كُلَ هَمٍ أَصْبَحْتُ أَوْ أَمْسَيْتُ فِيهِ فَرَجَا وَمَخرَ جَا اللَّهُمَّ إِنَّ عَفَوَكَ عَنْ ذُنُوبِى ، وَتَجَاوَزَكَ عَنْ خَطِيئَتىِ ، وَسِتْركَ عَلَى قَبِيحِ عَمَلِى ، أَطمِعْني أَنْ أَسْألَُكَ مَا لاَ أَسْتَوْجِبُهُ مِنْكَ مِمَّا قَصَّرْتُ فِيهِ ، أَدْعُوكَ اَمِنا وَأَسْأ لك مُسْتَأنِسَا . وَإِنَّكَ الْمحْسِنُ إِلَّى ، وَأَنَا الْمُسِى إلى نَفْسِى فِيِمَا بَيْنِى وَبَيْنَكَ ، تَتَوَدَدُ إِلىَّ بِنِعْمَتِكَ وَأَتَبَغَّضُ إلَيْكَ بِالْمعَاصِى وَلَكِنَّ الثَّقَةُ بِكَ حَمَلَتْنِى علَى الْجراءَةِ عَلَيْكَ فَعُدْ بِفَضْلِكَ وإحْسِانِكَ عَلَي إِنَّكَ أَنْتَ التَّوِابُ الَّرَحِيم وَصَلَ الله ُعَلَى سَيِدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ